Home

Friday, September 16, 2016

Perilaku Konsumtif

Tambunan (2001) menjelaskan bahwa perilaku konsumtif merupakan keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan maksimal.

Menurut Lubis (dalam Sumartono, 2002) mendefinisikan perilaku konsumtif sebagai perilaku yang tidak lagi berdasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak rasional lagi.

Ancok (1995) menjelaskan bahwa perilaku konsumtif seseorang ialah perilaku yang tidak lagi membeli barang yang benar-benar dibutuhkan, tetapi membeli barang hanya sematamata untuk membeli dan mencoba produk, walau sebenarnya tidak memerlukan produk tersebut.

Menurut Lina & Rosyid (1997) aspek-aspek perilaku konsumtif adalah:
a. Pembelian Impulsif (Impulsive Buying). Aspek ini menunjukkan bahwa seorang remaja berperilaku membeli semata-mata karena didasari oleh hasrat yang tiba-tiba/keinginan sesaat, dilakukan tanpa terlebih dahulu memepertimbangkannya, tidak memikirkan apa yang akan terjadi kemudian dan biasanya bersifat emosional.

Menurut Kharis (2011) menyebutkan bahwa impulsive buying atau biasa disebut juga unplanned purchase, adalah perilaku orang dimana orang tersebut tidak merencanakan sesuatu dalam berbelanja. Menurut Rook dalam Kharis (2011) impulsive buying adalah pembelian yang terjadi ketika konsumen mengalami desakan tibatiba, yang biasanya sangat kuat dan menetap untuk membeli sesuatu dengan segera.Dorongan pembelian adalah sifat foya-foya dan dapat merangsang konflik emosional, sehingga impulsive buying mudah terjadi karena adanya keinginan konsumen yang berubah-ubah.

Impulsive buying memiliki beberapa karakteristik: 
  1. Spontanitas.
  2. Kekuatan, kompulsi, intensitas.
  3. Kegairahan dan stimulasi.
  4. Ketidakpedulian akan akibat.

b. Pemborosan Perilaku konsumtif sebagai salah satu perilaku yang menghamburhamburkan banyak dana tanpa disadari adanya kebutuhan yang jelas. Boros adalah membelanjakan sesuatu tidak pada tempatnya ataupun melebihi ukuran yang semestinya. Contohnya: berbelanja pakaian yang dibutuhkan untuk kepentingan kerja, sekolah atau acara resmi tidak dikatakan boros namun jika membeli melebihi batas missal butuh pakaian hanya satu namun membeli tiga hal inilah yang dikatakan boros.

c. Mencari kesenangan (Non rational buying) Suatu perilaku dimana konsumen membeli sesuatu yang dilakukan semata-mata untuk mencari kesenangan. Salah satu yang dicari adalah kenyamanan fisik dimana para remaja dalam hal ini dilator belakangi oleh sifat remaja yang akan merasa senang dan nyaman ketika dia memakai barang yang dapat membuatnya lain daripada yang lain dan membuatnya merasa trendy.

Faktor yang mempengaruhi perilaku membeli menurut Kotler(dalam Suhari, 2008) terdiri dari:
  1. Kebudayaan yang terdiri dari : budaya, sub budaya dan kelas sosial.
  2. Sosial yang terdiri dari: kelompok acuan, keluarga, peran dan status.
  3. Personal yang terdiri dari: usia dan siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian, dan konsep diri.
  4. Psikologi yang terdiri dari: motivasi, persepsi, proses belajar, proses belajar, kepercayaan dan sikap.

Kondisi Kerja

Kondisi kerja adalah merupakan kondisi yang dapat dipersiapkan oleh manajemen perusahaan yang bersangkutan pada pabrik yang didirikan oleh perusahaan tersebut ( Ahyari,1994).

Menurut Newstrom (2006) Work condition relates to the scheduling of work-the length of work days and the time of day (or night) during which people work yang kurang lebih berarti bahwa kondisi kerja berhubungan dengan penjadwalan dari pekerjaan, lamanya bekerja dalam hari dan dalam waktu sehari atau malam selama orang-orang bekerja.

Menurut Munandar (2006), kondisi kerja meliputi variabel lingkungan fisik kerja dan kodisi lama waktu kerja. Dapat dijelaskan bahwa variabel-variabel tadi dapat memengaruhi sikap dan prilaku pekerja faktor-faktor yang perlu di pertimbangkan dalam kondisi kerja yang sesuai dengan situasi organisasi tertentu termasuk bagaimana biasanya pekerjaan dilakukan, karakteristik tenaga kerja yang terlibat dan aturan standar ektenal yang sesuai.

Komarudin, (2001) bahwa kondisi kerja atau yang sering disebut sebagai lingkungan kerja adalah kehidupan sosial psikologi dan fisik dalam organisasi yang berpengaruh terhadap pekerjaan karyawan dalam melaksanakan tugasnya.

Mangkunegara, (2005: 105) mengungkapkan bahwa kondisi kerja atau lingkungan kerja ialah semua aspek fisik kerja, psikologis kerja dan peraturan kerja yang dapat memengaruhi kepuasan kerja dan pencapaian produktivitas kerja.

Indikator-indikator kondisi kerja fisik meliputi penerangan, suhu udara, suara bising, penggunaan warna, ruang gerak yang diperlukan, dan keamanan kerja (Ahyari,1994).
  1. Penerangan. Penerangan yang ada harus sesuai dengan kebutuhan, tidak terlalu terang, tetapi juga tidak terlalu gelap. Dengan sistem penerangan yang baik, diharapkan karyawan akan menjalankan tugasnya dengan lebih teliti, sehingga kesalahan karyawan dalam bekerja dapat diperkecil, yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan produktivitas perusahaan.
  2. Suhu udara. Temperatur udara atau suhu udara pada ruang kerja karyawan akan ikut mempengaruhi kinerja para karyawan yang bersangkutan. Suhu udara terlalu panas bagi karyawan akan dapat menjadi penyebab turunnya kepuasan kerja para karyawan sehingga akan menimbulkan kesalahankesalahan pelaksanaan proses produksi. Untuk menciptakan kondisi ruang kerja dengan pertukaran udara yang baik, dilakukan dengan memasang ventilasi. Disamping itu perlu diperhatikan pula perbandingan antara luas suatu ruang kerja dengan jumlah karyawan yang bekerja dalam ruangan tersebut. Bila perlu dapat pula dipasang alat pendingin ruangan yang dapat membantu menciptakan kondisi udara yang sejuk dan nyaman. Bila perasaan nyaman dan segar dapat tercipta, maka karyawan akan merasakan kepuasan kerja, sehingga dapat meningkatkan kinerja mereka.
  3. Suara bising. Dalam bekerja, karyawan memerlukan suasana yang dapat mendukung konsentrasi dalam bekerja. Suara bising yang bersumber baik dari mesin-mesin pabrik maupun dari kendaraan umum akan dapat mengganggu konsentrasi karyawan dalam bekerja. Dengan konsentrasi yang terganggu, seorang karyawan tidak akan dapat bekerja dengan baik, sehingga akan banyak melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, yang pada akhirnya akan merugikan perusahaan.
  4. Penggunaan warna. Masalah penggunaan warna di dalam ruang kerja para karyawan perusahaan pada umumnya belum mendapat perhatian dengan semestinya oleh manajemen perusahaan. Sebenarnya penggunaan warna dalam ruang kerja, akan mempunyai pengaruh yang tidak kecil terhadap kinerja karyawan perusahaan. Pemilihan warna yang cerah belum tentu akan dapat mendorong produktivitas karyawan. Demikian pula pemilihan warna yang gelap juga belum tentu menurunkan produktivitas kerja karyawan. Pada dasarnya pemilihan warna yang dilaksanakan oleh manajemen perusahaan bertujuan untuk dapat lebih memperjelas pengamatan para karyawan perusahaan tersebut kepada obyek pekerjaannya.
  5. Ruang gerak yang diperlukan. Manajemen perusahaan perlu untuk memperhatikan ruang gerak yang memadai dalam perusahaan, agar karyawan dapat leluasa bergerak dengan baik. Terlalu sempitnya ruang gerak yang tersedia akan mengakibatkan karyawan tidak dapat bekerja dengan baik. Namun demikian, ruang gerak yang terlalu besar akan menimbulkan pemborosan ruangan perusahaan. Oleh karena itu manajemen perusahaan tentunya harus dapat menyusun perencanaan yang tepat untuk ruang gerak dari masing-masing karyawan. Dengan adanya perencanaan yang tepat dari ruang gerak yang diperlukan oleh karyawan, maka pelaksanaan produksi akan berjalan dengan baik, serta perusahaan tidak akan menanggung akibat terjadinya pemborosan di dalam ruang gerak.
  6. Keamanan kerja. Keamanan kerja bagi karyawan merupakan faktor yang sangat penting yang perlu diperhatikan oleh perusahaan. Kondisi kerja yang aman akan membuat karyawan tenang dalam bekerja, sehingga berdampak pada meningkatnya produktivitas perusahaan. Keamanan kerja yang baik tidak hanya keamanan fisik karyawan, tetapi juga keamanan barang-barang pribadi karyawan. Dengan sistem keamanan yang baik, diharapkan karyawan akan tenang dalam bekerja, sehingga akan meningkatkan kinerja mereka.
Sedarmayanti, (2001) bahwa kondisi lingkungan kerja secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Kondisi Lingkungan Kerja Fisik
Lingkungan kerja fisik ialah semua keadaan yang berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat memengaruhi karyawan baik secara langsung maupun secara tidak langsung (Sedarmayanti, 2001).
Lingkungan kerja fisik ini dibagi menjadi dua, antara lain:
  1. Lingkungan yang berhubungan secara langsung dengan karyawan. Misalnya: meja, kursi.
  2. Lingkungan perantara yang dapat memengaruhi kondisi karyawan. Misalnya: sirkulasi udara, bau tidak sedap.
b. Kondisi Lingkungan Kerja Non-Fisik
Lingkungan kerja non-fisik merupakan seluruh kondisi yang terjadi dan berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan dengan sesama rekan kerja, atau hubungan dengan bawahan (Sedarmayanti, 2001).

Thursday, September 15, 2016

Stress Kerja

Robbin (2001) mendefinisikan stress sebagai kondisi dinamis dimana individu dihadapkan pada kesempatan, batasan, dan tuntutan yang berhubungan dengan apa yang dia inginkan, dan hasil dari keinginan tersebut menjadi tidak pasti dan penting.

Kreitner dan Kinicki (2001) mendefinisikan stress sebagai suatu reaksi adaptif tubuh yang dimediasi oleh karakteristik-karakteristik individual dan atau proses-proses psikologis sebagai akibat dari beberapa tindakan, situasi dan kejadian luar biasa yang membutuhkan tuntutan-tuntutan fisik dan atau psikologis khusus pada seseorang.

Wagner dan Hollenbeck (1995) menyatakan stress merupakan keadaan emosional yang tidak menyenangkan sebagai akibat ketika seseorang merasa tidak pasti atas kemampuannya untuk mengatasi tantangan yang diterima sebagai suatu nilai yang penting.

Hariandja (2002) mendefinisikan stres sebagai situasi ketegangan atau tekanan emosional yang dialami seseorang yang sedang menghadapi tuntutan yang sangat besar, hambatan-hambatan, dan adanya kesempatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran, dan kondisi fisik seseorang.

Sumber potensial stress kerja (job stressor) merupakan faktor-faktor yang dapat memicu munculnya stress. Menurut Robbin (2001), terdapat tiga stressor yang mengancam individu dan dapat digolongkan kedalam :
  1. Faktor lingkungan, seperti ketidakpastian ekonomi, politik dan keamanan, perubahan teknologi yang terlalu cepat.
  2. Faktor organisasional, seperti politik dan budaya organisasi, konflik peran dan ambiguitas peran, kepemimpinan, lingkungan fisik organisasi.
  3. Faktor individual, seperti persoalan keluarga, masalah keuangan, dan faktor kepribadian.
Sarafino (Smet, 1994) mengatakan bahwa stres kerja dapat disebabkan oleh :
  1. Lingkungan fisik yang terlalu menekan, seperti kebisingan, temperatur atau panas yang terlalu tinggi, udara yang lembab, dan penerangan di kantor yang kurang.
  2. Kurangnya kontrol yang dirasakan.
  3. Kurangnya hubungan interpersonal
  4. Kurangnya pengakuan terhadap kemajuan kerja. Para pekerja akan merasa stres bila mereka tidak mendapatkan promosi yang selayaknya mereka terima.
Secara umum stres kerja memiliki dampak yang merugikan baik bagi individu maupun bagi perusahaan tempat karyawan tersebut bekerja. Dampak yang dihasilkanpun sesuai dengan tingkatan dan jenis stres yang dialami oleh karyawan. Tingkatan stres ada bermacam-macam, dan oleh Brealey (2002) dibagi dalam empat tingkatan yaitu sebagai berikut :
  1. Stres yang terlalu rendah : kurangnya tantangan akan menimbulkan kebosanan, produktifitas rendah dan kurangnya prestasi pribadi. Hal ini akhirnya akan berkontribusi pada kepercayaan diri yang rendah, dan kurangnya tujuan hidup.
  2. Stres yang optimal : jumlah stres yang tepat dalam hidup akan memampukan seseorang untuk memanfaatkan peluang, bangkit untuk menghadapi tantangan, dan memperluas batasan seseorang. Seseorang akan memutuskan untuk menghadapi berbagai masalah dalam langkah-langkahnya dan memperoleh kepuasan dari sebuah pekerjaan atau dari pekerjaan yang telah diselesaikan dengan baik.
  3. Terlalu banyak stres : selain kelelahan mental dan fisik, individu akan mendorong dirinya sendiri untuk terus bekerja, tapi dengan mengurangi imbalannya. Dengan mendorong diri sendiri secara terus-menerus sampai melewati batas, akan membuatnya terus menambah kecepatan dan akhirnya menyadari bahwa tidak dapat berhenti dan rileks.
  4. Kelelahan : tanda-tanda peringatan yang menyatakan bahwa kita berada dibawah stres yang berlebihan, apabila kita tidak mengindahkannya, maka kita sangat berpeluang untuk jatuh sakit, baik secara mental maupun fisik. Yang terbaik adalah kinerja yang berubah-ubah.
Childre (2001) mengemukakan metode yang dapat digunakan untuk mengelola stres, yaitu metode freeze-frame yang mempunyai lima langkah sebagai berikut :
  1. Kenali perasaan penuh tekanan,
  2. Buatlah usaha nyata untuk mengalihkan fokus dari pikiran-pikiran yang berpacu atau emosi yang terganggu ke daerah-daerah disekitar jantung,
  3. Ingatlah selalu suatu persoalan yang positif dan menyenangkan atau saat-saat dalam hidup yang membangkitkan perasaan positif serta berusahalah untuk mengulanginya lagi,
  4. Menggunakan intuisi, pikiran yang sehat dan kesungguhan, tanyakan pada diri sendiri respon apa yang lebih efisien terhadap situasi yang dapat meminimalkan ketegangan yang timbul,
  5. Dengarkan apa yang dikatakan hati sebagai jawaban.
Faktor-faktor yang mempengaruhi stress kerja menurut Badeni, (2013) adalah sebagai berikut:
  1. Persepsi. Persepsi merupakan suatu proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan indera mereka untuk memberi makna terhadap lingkungannya. Maka, individu yang memersepsikan kesan indera atas lingkungannya secara positif akan cenderung kurang stres dibandingkan dengan mereka yang memersepsikan secara negatif terhadap lingkungannya.
  2. Pengalaman menghadapi peristiwa yang menyebabkan stres. Pengalaman dalam menghadapi sebuah peristiwa akan membuat seseorang memahami apa yang akan dilakukan ketika menghadapi situasi yang penuh dengan tekanan yang dapat menyebabkan stres kepada seseorang.
  3. Kemampuan memprediksi peristiwa penyebab stres. Apabila seseorang mampu memprediksi peristiwa apa yang akan menjadi penyebab stres, maka ia dapat mempersiapkan diri untuk menghadapinya, sehingga akan dapat mengurangi tingkat stres.
  4. Jenis kepribadian (belief in locus of control-internal or external). Seseorang yang memiliki kepribadian internal locus of control ketika menghadapi situasi yang penuh stres, cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah bila dibandingkan dengan kepribadian seseorang yang external locus of control. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa mereka dengan tempat pengendalian diri dari dalam dapat mengendalikan situasi, sedangkan mereka dengan tempat pengendalian diri dari luar yakin bahwa mereka tidak dapat mengendalikan situasi.
  5. Dukungan sosial. Dukungan sosial baik dari kolegial atau atasan maupun dari keluarga akan dapat mengurangi tingkat stres, karena seseorang yang memiliki dukungan sosial dalam bekerja akan cenderung merasa nyaman dalam bekerja.
  6. Permusuhan. Seseorang yang mudah mengalami kemarahan dan permusuhan yang tinggi akan cenderung mudah terkena stres, karena sifat-sifat seperti ini terdorong oleh perasaan curiga dan tidak mempercayai orang lain.
Dalam Rahim (1996) disebutkan bahwa karakteristik pekerjaan yang menyebabkan sumber stres kerja secara konseptual terdiri dari lima dimensi, yaitu sebagai berikut:
  1. Physical Environment. Lingkungan tempat bekerja yang tidak mendukung terselenggaranya proses bekerja yang baik.
  2. Role conflict. Mengindikasikan suatu tingkatan dimana individu mengalami ketidaksesuaian antara permintaan dan komitmen dari suatu peran.
  3. Role Ambiguity.  Mengindikasikan suatu tingkatan dimana kriteria prioritas, harapan (expectations), dan evaluasi tidak disampaikan secara jelas kepada pegawai.
  4. Role Overload. Mengindikasikan suatu tingkatan dimana permintaan kerja melebihi kemampuan pegawai dan sumber daya lainnya, serta suatu keadaan dimana pegawai tidak mampu menyelesaikan beban kerja yang direncanakan.
  5. Role Insufficiency. Mengindikasikan suatu kondisi dimana pendidikan, training, keterampilan, dan pengalaman pegawai tidak sesuai dengan job requirements. 

Kebermaknaan Hidup

Frankl (2003) dengan teorinya yang diberi nama Logotheraphy, menyimpulkan bahwa kehidupan yang sehat adalah kehidupan yang penuh makna.

Fromm (1996) menegaskan bahwa muara dari kebermaknaan hidup adalah adanya rasa kasihan dan simpati yang merupakan dua perasaan yang berkaitan erat dengan kasih sayang, tetapi tidak sepenuhya identik. Kasih sayang yang sesungguhnya adalah bahwa seseorang sanggup "menderita dengan" atau, dalam arti yang lebih luas, mampu "merasa dengan" orang lain. Kasih sayang, cinta dan rasa kasihan secara umum, diakui merupakan pengalaman-pengalaman perasaan yang halus. Bertolak dari pandangan tersebut,

Schultz (1991) menyebutkan bahwa ada tiga sistem nilai yang merupakan sumber makna hidup.
  1. nilai-nilai daya cipta atau kreasi (creative values), artinya memberikan sesuatu yang berharga dan berguna pada kehidupan
  2. nilai-nilai penghayatan (experiental values), meyakini dan menghayati kebenaran, kebijakan, keindahan, keadilan, keimanan dan nilai-nilai yang dianggap berharga.
  3. nilai-nilai sikap (attitudinal values), yaitu menerima dengan tabah dan mengambil sikap yang tepat terhadap penderitaan yang tidak dapat dihindari lagi setelah berbagai upaya dilakukan secara optimal, tetapi tidak berhasil mengatasinya.
Logoterapi beranggapan bahwa kehendak untuk hidup bermakna merupakan dambaan manusia untuk meraih kehidupan yang dihayati bermakna dengan jalan menemukan sumber-sumber makna hidup dan merealisasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Ada tiga asas utama logoterapi yang menjadi inti dari terapi ini, yaitu:

  1. hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup
  2. setiap manusia memiliki kebebasan - yang hampir tidak terbatas - untuk menentukan sendiri makna hidupnya. dari sini kita dapat memilih makna atas setiap persitiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif ataupun makna yang negatif. makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna.
  3. setiap manusia memiliki kemampuan untuk mengambil sikap terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar.
Dalam kehidupan terdapat tiga bidang kegiatan yang secara potensial mengandung nilai-nilai yang memungkinkan seseorang menemukan makna hidup di dalamnya apabila nilai-nilai ini diterapkan dan dipenuhi. ketiga nilai ini adalah sebagai berikut:

  1. creative values (nilai-nilai kreatif) : kegiatan berkarya, bekerja, mencipta serta melaksanakan tugas dan kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. menekuni suatu pekerjaan tertentu dan meningkatkan keterlibatan pribadi terhadap tugas serta berusaha untuk mengerjakannya dengan sebaik-baiknya merupakan salah satu contoh dari berkarya. melalui karya dan kerja manusia dapat menemukan arti hidup dan menghayati kehidupan secara bermakna.
  2. experiental values (nilai-nilai penghayatan) : keyakinan dan penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, kebajikan, keindahan, keimanan, dan keagamaan, serta cinta kasih. menghayati dan meyakini suatu nilai dapat menjadikan seseorang berarti hidupnya.
  3. attitudinal values (nilai-nilai bersikap) : menerima ddengan penuh ketabahan, kesabaran dan keberanian segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin diletakkan lagi, seperti sakit yang tak dapat disembuhkan, kematian, dan menjelang kematian, setelah segala upaya dan ikhtiar dia lakukan secara maksimal.
Makna hidup harus dicari dan ditemukan sendiri oleh orang yang bersangkutan, maka apabila hasrat hidup bermakna tersebut terpenuhi, orang yang bersangkutan akan merasakan kehidupan bermakna. Menurut Frankl (2003) ciri-ciri orang yang merasakan hidup bermakna, dijelaskan sebagai berikut ini:

  1. menjalani kehidupan sehari-hari dengan semangat dan penuh gairah serta jauh dari perasaaan hampa
  2. tujuan hidup, baik jangka pendek dan jangka panjang jelas, sehingga mereka jadi lebih terarah dan merasakan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai
  3. tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari merupakan sumber kepuasan dan kesenangan tersendiri, sehingga dalam pengerjaannya semangat dan bertanggung jawab
  4. mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, artinya menyadari pembatasan-pembatasan lingkungan, tetapi dalam keterbatasan itu tetap dapat menentukan sendiri apa yang paling baik untuk dilakukan
  5. menyadari makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan betapapun buruknya keadaan, menghadapinya dengan tabah dan menyadari bahwa hikmah selalu ada dibalik penderitaan
  6. kemampuan untuk menentukan tujuan-tujuan pribadi dan menentukan makna hidup sebagai sesuatu yang sangat berharga dan tinggi nilainya
  7. mampu mencintai dan menerima cinta kasih orang lain serta menyadari bahwa cinta kasih merupakan salah satu nilai hidup yang menjadikan hidup ini indah
Berdasarkan teori Frankl (dalam Bastaman, 1996), rumusan tentang individu yang menjalani kehidupan bermakna dan memiliki kebermaknaan hidup mempunyai karakteristik sebagai berikut:

  1. bertanggung jawab secara pribadi dalam mengarahkan hidupnya dalam menyikapi nasib dan takdir
  2. mengenali diri sendiri dan menyadari dirinya sebagai makhluk Tuhan
  3. memiliki kendali atau kontrol dan sadar terhadap hidupnya
  4. memiliki kebebasan untuk memilih cara bertindak dan bersikap sesuai dengan dirinya
  5. memiliki kemampuan memberi dan menerima cinta
  6. mampu melakukan transendensi diri/melampaui atau mengatasi diri
  7. berorientasi pada masa depan dan bersikap optimis
  8. tidak ditentukan oleh kekuatan di luasr diri mereka sendiri
  9. memiliki dasar untuk terus menjalani hidup
Menurut Crumbaugh & Mahollick (dalam Koeswara, 1992) terdapat enam aspek dalam kebermaknaan hidup.

  1. makna hidup. segala sesuatu yang dianggap penting dan berharga bagi seseorang dan memberi nilai khusus, serta dapat dijadikan sebagai tujuan hidup bagi individu tersebut
  2. kepuasan hidup. penilaian seseorang terhadap hidup yang dijalaninya, sejauhmana ia mampu menikmati dan merasakan kepuasan dalam hidup dan segala aktifitas yang dilakukannya
  3. kebebasan hidup. perasaan mampu mengendalikan kebebasan hidupnya secara bertanggung jawab
  4. sikap terhadap kematian. pandangan dan kesiapan seseorang terhadap kematian yang akan dihadapi oleh setiap manusia
  5. pikiran tentang bunuh diri. pikiran seseorang untuk melakukan perbuatan bunuh diri
  6. kepantasan hidup. penilaian seseorang terhadap hidupnya, sejauhmana ia merasa bahwa apa yang telah ia alami dalam hidup adalah sebagai sesuatu yang wajar
Bastaman (1997) menyebutkan faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi kebermaknaan hidup yang terdiri dari:
1. faktor eksternal
a. sarana dan prasarana: berbagai macam fasilitas yang ada yang lebih bersifat fisik yang nantinya dapat membantu dalam proses pelaksanaan pekerjaan yang dapat menunjang kelancarannya
b. aturan dan norma: adanya aturan dan norma yang baku yang telah disepakati bersama yang nantinya dapat memberikan ikatan secara hukum yang sah dan dapat memberikan pula arahan yang lebih jelas tentang perilaku kehidupan sehari-hari
c. suasana dan kondisi lingkungan: keadaan lingkungan tempat individu tinggal yang nantinya juga dapat memberikan dukungan pada pemenuhan makna kehidupan individu

2. faktor eksternal
a. Creative values (nilai-nilai kreatif) : bekerja dan berkarya serta melaksanakan tugas dengan keterlibatan dan tanggung jawab penuh pada pekerjaan. Sebenarnya pekerjaan hanyalah sarana yang dapat memberikan kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan makna hidup. Makna hidup bukan terletak pada pekerjaan melainkan pada sikap dan cara kerja yang mencerminkan keterlibatan pribadi pada pekerjaannya. Berbuat kebajikan dan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi lingkungan termasuk usaha merealisasikan nilai-nilai kreatif.
b. Experiential values (nilai-nilai penghayatan) : meyakini dan menghayati akan kebenaran, kebajikan, keindahan, keadilan, keimanan, dan nilai-nilai lain yang dianggap berharga. Dalam hal ini cinta kasih merupakan nilai yang sangat penting dalam mengembangkan hidup yang bermakna. Mencintai seseorang berarti menerima sepenuhnya keadaan seseorang yang dicintai seperti apa adanya serta benar-benar memahami kepribadiannya dengan penuh pengertian. Dengan jalan mengasihi dan dikasihi, seseorang akan merasakan hidupnya sarat dengan pengalaman-pengalaman penuh makna dan membahagiakan.
c. Attitudional values (nilai-nilai bersikap) : menerima dengan tabah dan mengambil sikap yang tetap terhadap penderitaan yang tak pernah dapat dihadiri lagi setelah berbagai upaya dilakukan secara optimal tetapi tak berhasil mengatasinya. Mengingat peristiwa yang tragis tak dapat dielakkan lagi, maka sikap menghadapinyalah yang perlu diubah. Dengan mengubah sikap diharapkan beban mental akibat musibah mengurang, bahkan mungkin saja dapat memberikaan pengalaman berharga bagi para penderita yang dalam bahasa sehari-hari hikmah. Penderitaan dapat memberikan makna apabila penderita mampu mengatasinya dengan baik, sekurang-kurangnya dapat menerima keadaannya setelah upaya maksimal dilakukan tetapi tetap tidak berhasil mengatasi. Optimisme dalam menghadapi musibah ini tersirat dalam ungkapan-ungkapan seperti "makna dalam derita" (meaning in suffering) dan " hikmah dalam musibah" (blessing in disguise).

Menurut Frankl (2003) karakteristik makna hidup meliputi tiga sifat, yaitu

  1. makna hidup sifatnya unik dan personal. apa yang dianggap berarti bagi seseorang belum tentu berarti bagi orang lain. bahkan mungkin apa yang dianggap penting dan bermakna pada saat ini oleh seseorang, belum tentu sama bermaknanya bagi orang itu pada saat yang lain. dalam hal ini makna hidup seseorang dan apa yang bermakna baginya biasanya bersifat khusus, berbeda dengan orang lain dan mungkin dari waktu ke waktu berubah pula
  2. makna hidup sifatnya spesifik dan konkrit. dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata sehari-hari dan tidak selalu harus dikaitkan dengan tujuan-tujuan idealis, prestasi-prestasi akademis yang tinggi, atau hasil-hasil filosofis yang kreatif.
  3. makna hidup sifatnya memberi pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan. makna hidup seakan-akan menantang (challenging) dan mengundang (inviting) seseorang untuk memenuhinya. begitu makna hidup ditemukan dan tujuan hidup ditentukan, maka seseorang akan terpanggil untuk melaksanakan dan memenuhinya. kegiatan-kegiatan yang dilakukannya pun menjadi lebih terarah.
Berdasarkan hasil temuan studi kasus yang dilakukan Bastaman (1996) yaitu mengenai komponen dan proses keberhasilan mengembangkan penghayatan hidup bermakna, ia mengkategorikan ke dalam empat dimensi, yaitu:

  1. dimensi personal terdiri dari pemahaman diri dan pengubahan sikap
  2. dimensi sosial mencakup dukungan sosial, faktor pemicu kesadaran diri dan model ideal pengarahan diri
  3. dimensi nilai-nilai meliputi pencarian makna hidup secara aktif, penemuan makna hidup, keterikatan diri terhadap makna hidup, kegiatan terarah pada tujuan, tantangan dan keberhasilan memenuhi makna hidup
  4. dimensi spiritual terdiri dari keimanan sebagai dasar dari kehidupan beragama.

Kepercayaan Diri

Neil dalam Leonni dan Hadi (2006), kepercayaan diri adalah sejauhmana individu punya keyakinan terhadap penilaiannya atas kemampuan dirinya dan sejauhmana individu bisa merasakan adanya kepantasan untuk berhasil. Menurut M. Zein Hidayat, tidak percaya diri adalah seseorang yang memiliki perilaku seperti tidak mencoba hal baru, merasa tidak diinginkan dalam lingkungan sekitarnya, emosi terlihat kaku, mudah mengalami frustasi hingga terkadang mengesampingkan potensi dan bakat yang dimiliki.

WHO (2003) mengartikan kepercayaan diri sebagai perilaku yang membuat individu memiliki pandangan positif dan realistis mengenai diri mereka sendiri dan situasi di sekelilingnya. Menurut Bandura dalam Hurlock (1999), self confident adalah suatu keyakinan seseorang untuk mampu berperilaku sesuai dengan harapan dan keinginannya.

Swallow (2000) seorang psikiater anak, membuat daftar hal-hal yang biasanya dilakukan/dirasakan oleh anak yang pemalu:
  1. menghindari kontak mata
  2. tidak mau melakukan apa-apa
  3. terkadang memperlihatkan perilaku mengamuk/temper tantrums (dilakukan untuk melepaskan kecemasannya)
  4. tidak banyak bicara, menjawab secukupnya saja seperti "ya", "tidak", "tidak tahu", "halo"
  5. tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas
  6. tidak mau meminta pertolongan atau bertanya pada orang yang tidak dikenal
  7. mengalami demam panggung (pipi memerah, tangan berkeringat, keringat dingin, bibir terasa kering) di saat-saat tertentu
  8. menggunakan alasan sakit agar tidak perlu berhubungan dengan orang lain (misalnya agar tidak perlu pergi ke sekolah)
  9. Mengalami psikosomatis
  10. merasa tidak ada yang menyukainya
Beberapa ciri atau karakteristik individu yang kurang percaya diri, diantaranya adalah:
  1. berusaha menunjukkan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok
  2.  menyimpan rasa takut/kekhawatiran terhadap penolakan
  3. sulit menerima realita diri (terlebih menerima kekurangan diri) dan memandang rendah kemampuan diri sendiri - namun di lain pihak memasang harapan yang tidak realistik terhadap diri sendiri
  4. perimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif
  5. takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang target untuk berhasil
  6. cenderung menolak pujian yang ditujukan secara tulus (karena undervalue diri sendiri)
  7. selalu menempatkan/memposisikan diri sebagai yang terakhir, karena menilai dirinya tidak mampu
  8. mempunyai external locus of control (mudah menyerah pada nasib, sangat tergantung pada keadaan dan pengakuan/penerimaan serta bantuan orang lain)
Indikator percaya diri merupakan suatu hasil yang nampak pada diri seseorang. Contohnya apabila seseorang berani melakukan suatu aktivitas dan kelihatannya ia tidak ragu memilih dan membuat apa yang harus dibuatnya. Berikut beberapa indikator kepercayaan diri:
  1. tampil percaya diri. bekerja sendiri tanpa perlu supervisi, mengambil keputusan tanpa perlu persetujuan orang lain
  2. Bertindak independen. bertindak di luar otoritas formal agar pekerjaan bisa terselesaikan dengan baik, namun  hal ini dilakukan demi kebaikan, bukan karena tidak mematuhi prosedur yang berlaku
  3. menyatakan keyakinan dan kemampuan sendiri. menggambarkan dirinya sebagai seorang ahli, seseorang yang mampu mewujudkan sesuatu menjadi kenyataan, seorang penggerak, atau seorang narasumber. secara eksplisit menunjukkan kepercayaan akan penilaiannya sendiri, melihat dirinya lebih baik dari orang lain.
  4. memilih  tantangan atau konflik. menyukai tugas-tugas yang menantang dan mencari tanggung jawab baru. bicara terus terang jika tidak sependapat dengan orang lain yang lebih kuat, tetapi mengutarakannya denga sopan. menyampaikan pendapat dengan jelas dan percaya diri walaupun dalam situasi konflik.
Faktor-faktor penyebab kurang percaya diri
  1. kurang mengenal diri. setelah mengenal diri dengan baik maka langkah selanjutnya adalah menerima diri apa adanya. menerima diri apa adanya bukan berarti pasrah atau pesimis dengan keadaan diri, tetapi sebaliknya menerima dengan positif apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan diri kita.
  2. kecemasan. kita tidak bisa membangun rasa percaya diri sebelum berhasil mengatasi kecemasa. kunci sukses adalah dapat membangun rasa percaya diri dengan cara menghilangkan rasa cemas. rasa cemas berbahaya dan bisa mempengaruhi semua orang di sekitarnya, untuk mengalahkan rasa cemas perlu membangun antusiasme (semangat/minat besar).
  3. kurangnya wawasan. kita perlu membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan, semakin banyak dapat ilmu maka semakin luaslah wawasan kita serta semakin percaya diri sebaliknya bila kurang membenahi dan tidak mempunyai wawasan luas bisa mengakibatkan kurang percaya diri dalam bersosialisasi.
Kepercayaan diri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat digolongkan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal:
1. faktor internal
a. konsep diri. menurut Centi (1995) konsep diri merupakan gagasan tentang dirinya sendiri. seseorang yang mempunyai rasa rendah diri biasanya mempunyai konsep diri negatif, sebaliknya orang yang mempunyai rasa percaya diri akan memiliki konsep diri positif.
b. harga diri. Meadow dalam Kusuma (2005), harga diri yaitu penilaian yang dilakukan terhadap diri sendiri. orang yang memiliki harga diri tinggi akan menilai pribadi secara rasional dan benar bagi dirinya serta mudah mengadakan hubungan dengan individu lain.
c. kondisi fisik. Lauster (1997) berpendapat bahwa ketidakmampuan fisik dapat menyebabkan rasa rendah diri yang kentara.
d. pengalaman hidup. Lauster (1997) mengatakan bahwa kepercayaan diri diperoleh dari pengalaman yang mengecewakan adalah paling sering menjadi sumber timbulnya rasa rendah diri.

2. faktor eksternal
a. pendidikan. Anthony (1992) mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan yang rendah cenderung membuat individu merasa dibawah kekuasaan yang lebih pandai, sebaliknya individu yang pendidikannya lebih tinggi cenderung akan menjadi mandiri dan tidak perlu bergantung pada individu lain.
b. pekerjaan. Roger dalam Kusuma (2005) mengemukakan bahwa bekerja dapat mengembangkan kreatifitas dan kemandirian serta rasa percaya diri.
c. lingkungan dan pengalaman hidup. lingkungan disini merupakan lingkungan keluarga dan masyarakat. dukungan yang baik yang diterima dari lingkungan keluarga seperti anggota keluarga yang saling berinteraksi dengan baik akan memberi rasa nyaman dan percaya diri yang tinggi. lingkungan masyarakat yang bisa memenuhi norma dan diterima oleh masyarakat, maka semakin lancar harga diri berkembang (Centi, 1995). pembentukan kepercayaan diri juga bersumber dari pengalaman pribadi yang dialami seseorang dalam perjalanan hidupnya. pemenuhan kebutuhan psikologis merupakan pengalaman yang dialami seseorang selama perjalanan yang buruk pada masa kanak-kanak akan menyebabkan individu kurang percaya diri (Drajat, 1995).

Akibat kurangnya percaya diri
  1. tidak memiliki sesuatu (keinginan, tujuan, target) yang diperjuangkan secara sungguh-sungguh
  2. tidak memiliki keputusan melangkah yang decissive (ngambang)
  3. mudah frustasi atau give-up ketika menghadapi masalah atau kesulitan
  4. kurang termotivasi untuk maju, malas-malasan atau setengah-setengah
  5. sering gagal dalam menyempurnakan tugas-tugas atau tanggung jawab (tidak optimal)
  6. canggung dalam menghadapi orang
  7. tidak bisa mendemonstrasikan kemampuan berbicara dan kemampuan mendengarkan yang meyakinkan
  8. sering memiliki harapan yang tidak realistis 
  9. terlalu perfeksionis
  10. terlalu sensitif (perasa)

Wednesday, September 14, 2016

Beban Kerja

Menpan (1997), beban kerja adalah sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu. Komaruddin (1996) mengemukakan bahwa analisa beban kerja adalah proses untuk menetapkan jumlah jam kerja orang yang digunakan atau dibutuhkan untuk merampungkan suatu pekerjaan dalam waktu tertentu, atau dengan kata lain analisis beban kerja bertujuan untuk menentukan berapa jumlah personalia dan berapa jumlah tanggungjawab atau beban kerja yang tepat dilimpahkan kepada seorang petugas. Permendagri No. 12/2008, beban kerja adalah besaran pekerjaan yang harus dipikul oleh suatu jabatan atau unit organisasi dan merupakan hasil kali antara volume kerja dan norma waktu.

Beban kerja menurut Haryono (2004), adalah jumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh seseorang ataupun sekelompok orang selama periode waktu tertentu dalam keadaan normal. Gopher & Doncin (1986) mengartikan beban kerja sebagai suatu konsep yang timbul akibat adanya keterbatasan kapasitas dalam memroses informasi. Rodahl dalam Prihatini (2007), menyatakan bahwa beban kerja dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut:
1. Faktor eksternal yaitu beban yang berasal dari luar tubuh pekerja, seperti:
a) Tugas-tugas yang dilakukan yang bersifat fisik seperti stasiun kerja, tata ruang, tempat kerja, alat dan sarana kerja, kondisi kerja, sikap kerja, sedangkan tugas-tugas yang bersifat mental seperti kompleksitas pekerjaan, tingkat kesulitan pekerjaan, pelatihan atau pendidikan yang diperoleh, tanggung jawab pekerjaan.
b) Organisasi kerja seperti masa waktu kerja, waktu istirahat, kerja bergilir, kerja malam, sistem pengupahan, model struktur organisasi, pelimpahan tugas dan wewenang.
c) Lingkungan kerja adalah lingkungan kerja fisik, lingkungan kimiawi, lingkungan kerja biologis, dan lingkungan kerja psikologis. Ketiga aspek ini disebut wring stresor.

2. Faktor internal Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh akibat dari reaksi beban kerja eksternal. Reaksi tubuh disebut strain, berat ringannya strain dapat dinilai baik secara objektif maupun subjektif. Faktor internal meliputi faktor somatis (Jenis kelamin, umur, ukuran tubuh, status gizi, kondisi kesehatan), faktor psikis (motivasi, persepsi, kepercayaan. keinginan dan kepuasan).

Menurut Munandar (2001), mengklasifikasikan beban kerja kedalam faktor-faktor intrinsik dalam pekerjaan sebagai berikut :
a. Tuntutan Fisik.
Kondisi kerja tertentu dapat menghasilkan prestasi kerja yang optimal disamping dampaknya terhadap kinerja pegawai, kondisi fisik berdampak pula terhadap kesehatan mental seorang tenaga kerja. Kondisi fisik pekerja mempunyai pengaruh terhadap kondisi faal dan psikologi seseorang. Dalam hal ini bahwa kondisi kesehatan pegawai harus tetap dalam keadaan sehat saat melakukan pekerjaan , selain istirahat yang cukup juga dengan dukungan sarana tempat kerja yang nyaman dan memadai.

b. Tuntutan tugas
Kerja shif/kerja malam sering kali menyebabkan kelelahan bagi para pegawai akibat dari beban kerja yang berlebihan. Beban kerja berlebihan dan beban kerja terlalu sedikit dapat berpengaruh terhadap kinerja pegawai. Beban kerja dapat dibedakan menjadi dua katagori yaitu :
- Beban kerja terlalu banyak/sedikit “ Kuantitatif” yang timbul akibat dari tugas-tugas yang terlalu banyak/sedikit diberikan kepada tenaga kerja untuk diselesaikan dalam waktu tertentu.
- Beban kerja berlebihan/terlalu sedikit Kualitatif yaitu jika orang merasa tidak mampu untuk melaksanakan suatu tugas atau melaksanakan tugas tidak menggunakan keterampilan dan atau potensi dari tenaga kerja.

Dampak negatif dari kelebihan beban kerja menurut Winaya (1989) beban kerja yang tidak sesuai dengan kemampuan tenaga kerja dapat menimbulkan dampak negatif bagi pegawai. Dampak negatif tersebut adalah :
1. Kualitas kerja menurun
Beban kerja yang terlalu berat tidak diimbangi dengan kemampuan tenaga kerja, kelebihan beban kerja akan mengakibatkan menurunnya kualitas kerja karena akibat dari kelelahan fisik dan turunnya konsentrasi, pengawasan diri, akurasi kerja sehingga hasil kerja tidak sesuai dengan standar
2. Keluhan pelanggan
Keluhan pelanggan timbul karena hasil kerja yaitu karena pelayanan yang diterima tidak sesuai dengan harapan. seperti harus menunggu lama, hasil layanan yang tidak memuaskan.
3. Kenaikan tingkat absensi
Beban kerja yang terlalu banyak bisa juga mengakibatkan pegawai terlalu lelah atau sakit. Hal ini akan berakibat buruk bagi kelancaran kerja organisasi karena tingkat absensi terlalu tinggi, sehingga dapat mempengaruhi terhadap kinerja organisasi secara keseluruhan.

Friday, August 26, 2016

Komunikasi Interpersonal

Chaplin (1995), penerimaan sosial adalah pengakuan dan penghargaan terhadap nilai-nilai individu yang mendapatkan penerimaan sosial akan merasa mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari individu lain atau kelompok secara utuh. Menurut Asher & Parker dalam Andi Mappiere (1982) penerimaan sosial adalah suatu keadaan dimana individu itu disukai dan diterima oleh teman lain di dalam lingkungan dan setiap individu diterima oleh individu lain secara penuh dan penerimaan semacam ini akan menimbulkan perasaan aman. Penerimaan Sosial diartikan sebagai perhatian positif dari orang lain (Sinthia, 2011). Sedangkan menurut Hurlock (1998) menyebutkan bahwa penerimaan sosial berarti dipilih sebagai teman untuk suatu aktivitas dalam kelompok di mana seseorang menajdi anggota. Penerimaan sosial menunjukkan suatu keberhasilan seorang anak untuk berperan di dalam kelompoknya dan bekerja atau bermain dengannya (Ervika, 2011).

Sementara itu pengertian penerimaan sosial menurut Beck (dalam Habibah, 2000) adalah kemampuan seseorang, sehingga ia dihormati oleh anggota kelompok yang lainnya sebagai partner sosial yang berguna. Sedangkan menurut Leary (2010), penerimaan sosial berarti adanya sinyal dari orang lain yang ingin menyertakan seseorang untuk tergabung dalam suatu relasi atau kelompok sosial. Berdasarkan pada penelitian Karina (2012) indikator penerimaan sosial adalah
  1. keinginan untuk berinteraksi dengan orang lain
  2. adanya kepercayaan yang diberikan kepada orang lain
  3. kesamaan (similiarity) yang dirasakan terhadap orang lain
Andi Mappiere (1982) menjabarkan seseorang diterima di dalam lingkungannya dipersepsikan menampilkan sikap-sikap sebagai berikut:
  1. menghargai secara keseluruhan apa yang ada di dalam diri individu tanpa syarat, pendapat atau penilaian. Lingkungan yang dimiliki individu atau dengan kata lain keadaan individu diterima sepenuhnya.
  2. emandang sebagai orang yang berharga tanpa memandang latar belakang atau keadaan individu
  3. tidak memandang rendah. Lingkungan sosial percaya bahwa individu memiliki keyakinan atau kemampuan atau potensi yang ada pada dirinya
  4. individu yang diterima tidak mendapatkan tekanan atau memiliki kebebasan. Dengan kata lain individi akan merasakan bahwa lingkungannya memberikan suatu independensi (mandiri)
Sedangkan menurut Hurlock (1997) seseorang yang diterima oleh kelompok sosialnya akan menunjukkan karakteristik sebagai berikut:
  1. merasa aman juga berada di tenagh-tengah lingkungan. Individu akan merasa nyaman ketika berada di lingkungan
  2. dengan merasa diterima. Individu akan mendapatkan indentitas diri dan mempunyai harga diri
  3. akan merasa bebas. Dalam arti individu tidak merasa tertekan dan yakin bahwa kelompok menerima keadaannya
  4. akan lebih sering terlibat dan bergaul dengan lingkungan. dalam arti individu akan lebih terbuka tentang keberadaannya, karena lingkungan dapat menerima keadaan individu